20
Des
09

Publisitas PR melalui kartu nama elektronik

Tugas Public Relations adalah untuk membina hubungan yang baik dan harmonis antara organisasi dan publiknya, baik publik internal maupun publik eksternal melalui komunikasi dua arah. Dan melalui media internet merupakan salah satu cara agar fungsi dan tugas Public Relations dapat dilakukan dengan baik atau semaksimal mungkin.

Internal Public Relations yaitu bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan cara menjalin kerjasama dengan seluruh lingkungan kerja, baik dengan itu pemegang saham manajer, atasan dan bawahan serta seluruh karyawan yang ada. Aktifitasnya antara lain :
1.Employee Relations, yaitu merupakan pembinaan yang dinamis dan harmonis dalam hubungan perorangan dilingkungan kerja, PR harus dapat menciptakan komunikasi dua arah baik secara vertikal dan horizontal.
2.Stokeholder Relations, merupakan hubungan yang penting antara para pemilik modal dengan perusahaan.
Pada kegiatan internal PR umumnya dilakukan tidak melalui media internet (E-PR), melainkan praktisi PR meninformasikan kepada karyawan melalui media :
Bulletin Boards
Daily News Sheet
Booklets and Brochures
Audiovisual Pretentations
Videotape and Films
Exhibitions and Displays
Open House
Telephone hotline

Pada dasarnya kegiatan PR Konvensional lebih mendekatkan pihak-pihak internal di perusahaan, karena tidak semua divisi-divisi atau staf-staf perusahaan adalah pengguna internet, mungkin saja kalangan bawah seperti Satpam perusahaan belum bisa atau mengerti dengan benar bagaimana mengoperasikan internet. Maka media-media yang biasa dilakukan oleh PR konvensional sebenarnya lebih mendekatkan perusahaan dengan karyawan-karyawan mereka baik secara fisik maupun mental.

Eksternal Public Relations yaitu hubungan yang dijalin perusahaan dengan para konsumen, para pelanggan, khalayak sekitar, instansi pemerintah, pers pemerintah dan opinion leader, serta kelompok-kelompok lain diluar perusahaan atau lembaga.
1.Customer Relations, yaitu kegiatan humas khusus yang diarahkan kepada para konsumen atau khalayak dengan harapan menjadikan mereka pelanggan setia.
2.Community Relations, merupakan hubungan yang dijalin perusahaan dengan masyarakat sekitar yang berfungsi menaikkan citra positif perusahaan.
3.Goverment Relations, yaitu hubungna yang dijalin dengan aparat sekitar perusahaan, hal ini juga sangat berguna untuk menjalin kerjasama dan meningkatkan citra positif perusahaan.
4.Perss Relations, hubungan yang terjalin dengan baik antara media massa dengan perusahaan guna memperlancar kegiatan publisitas, yang dimaksud perss disini adalah pers dalam arti luas, yaitu semua media massa.

Pada kenyataannya public eksternal suatu organisasi yang terdiri atas banyak orang itu berbeda-beda kepentingannya dengan suatu organisasi tertentuhal ini menjadikan perbedaan pula dalam teknik pembinaan hubungan dengan mereka. Agar komunikasi efektif sebagai pengaktifan hubungan dengan public eksternal, para ahli public relations mengklasifikasikannya menjadi kelompok-kelompok tertentu. Dan pada public eksternal praktisi PR dapat memberikan informasi melalui kegiatan E-PR.

E-PR adalah inisiatif Publik Relations yang menggunakan media internet sebagai sarana publisitasnya. Di indonesia inisiatif PR ini dikenal dengan istilah Cyber Public Relations.
Pengertian E-PR dapat diuraikan sebagai berikut :
E adalah Electronik
”e” di dalam E-PR sama halnya dengan ”e” sebelum kata mail atau commerce yang mengacu pada media elektronik internet.
P adalah Public
”Public” disini mengacu bukan hanya pada publik, namun pasar konsumen. Publik juga tidak mengacu hanya pada satu jenis pasar konsumen, namun pada berbagai pasar atau publik audience.
R adalah Relations
Relations merupakan hubungan yang harus dipupuk antara pasar dan bisnis.

E-PR diperlukan karena ada ribuan one-to-one relations dapat dibangun secara simultan melalui media internet karena sifatnya yang interaktif. Internet merupakan sarana untuk membangun hubungan yang ampuh bagi sebuah dunia bisnis.

Meski pada kenyataannya E-PR memiliki beberapa keunggulan, hal yang tidak dapat dipungkiri adalah baik E-PR maupun PR konvensional keberadaannya tidak dapat digantikan.

Jika E-PR dikatakan lebih fleksibel dari PR yang dilakukan di dunia nyata, mungkin memang benar, karena ketika program PR konvensional membutuhkan bugdet ratusan juta rupiah, maka program yang dilakukan melalui internet jauh lebih murah karena E-PR tidak membutuhkan stationary ataupun biaya cetak sehingga yang dapat membengkakan pengeluaran perusahaan, tetapi tetap saja tidak semua kegiatan PR dapat dilakukan melalui media online. Kegiatan eksternal perusahaanlah yang memungkinkan dipublikasikan melalui media online.

”Internet bagaikan sekertaris yang tidak pernah tidur selama 24 jam”, istilah inilah yang mungkin membuat media online memiliki potensi target pubik seluruh dunia, sehingga komunikasi yang dilakukan dapat berjalan konstan. Begitu juga dengan respon atau feedback yang memungkinkan kita merespon secara cepat dan serta merta semua permasalahan dan pertanyaan dari para prospek dan pelanggan mengenai perusahaan sehingga kita menjadi tau apa keinginan mereka (public).

Publisitas adalah dampak dari diketahuinya suatu informasi, sehingga dampak itu tidak selamanya bisa dikendalikan atau diatur sesuai dengan kehendak kita. Publisitas memunculkan suatu citra berdasarkan informasi tertentu. Citra suatu informasi tidak selamanya mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya, karena citra semata-mata terbentuk berdasarkan informasi yang tersedia. Sehingga informasi yang benar, akurat, tidak memihak, lengkap dan memadai itu benar-benar penting bagi munculnya citra yang tepat. Hal inilah yang mengharuskan perusahaan membina hubungan baik dengan media, melalui media center online.

E-PR mempermudah praktisi PR dalam membentuk opini public, karena tidak perlu melalui wartawan untuk menginformasikan tentang kebijakan-kebijakan yang terjadi diperusahaan. Tetapi praktisi PR juga perlu membina hubungan yang baik dengan media massa agar berita yang diekspose oleh media massa tidak merugikan citra dari perusahaan atau organisasi.

Meski terdapat perbedaan fokus dalam E-PR dan PR Konvensional pada dasarnya fungsi kegiatannya adalah sama yakni menginformasikan segala hal yang terjadi baik di publik internal maupun eksternal. Hanya saja pada media online produk atau bisnis kita dapat menjadi bagian editorial yang ada disitus web atau E-Zine lain yang terkenal dan bisa dimaksimalkan untuk menggunakan penyampaian elektronik kepada organisasi media lokal, nasional, regional dan internasional. Termasuk press realease serta dokumen-dokumen penunjang di web.

Dalam kegiatan-kegiatan E-PR, fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :
Kartu nama elektronik : E-BUSINESS CARD atau disebut juga SIGNATURE FILE (SIG.FILE) (sig.file).

Analisis publisitas PR melalui kartu nama elektronik

Seperti halnya pengertian publisitas dan E-Pr, publisitas melalui kartu nama elektronik, merupakan sebuah cara mempublikasikan atau membuat sebuah citra tanpa menggunakan bantuan wartawan.  Sebuah citra yang terbentuk dari sebuah kartu nama elektronik, merupakan sebuah cara agar citra yang kita bentuk dapat meraup perhatian di jagad dunia maya ini.  Membangun digital brand image, seperti kita ketahui pengaruh brand image didunia maya sangat besar karena di dunia online (baik perusahaan online atau offline) memberi peluang dan tantangan besar dengan potensi dalam membangun hubungan yang bersifat one-to-one.

Digital brand image dapat dibangun, melalui gambar, kata-kata dan waktu yang dibutuhkan untuk mengakses halaman, cepat atau lambat dalam memberi tanggapan kepada klien. Karena itu akan lebih baik dalam membangun digital brand image harus memunculkan konsistensi dan karakteristik yang sama baik secara filosofi maupun karakter bisnis.

Kartu nama elektronik (signature file), merupakan sebuah pengenalan diri baik seseorang ataupun sebuah perusahaan kepada khalayak umum di jagad dunia maya ini.  Terbentuknya citra dari kartu nama ini sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan sebuah  perusahaan. Mengapa demikian…???

Karena dengan adanya kartu nama elektronik (signature file) ini, setiap apa yang akan kita publikasikan ke jagad dunia maya, dapat mendongkrak citra kita atau perusahaan tersebut.  Hal ini dikarenakan, pengguna internet tiap harinya makin meningkat.  Informasi yang dibutuhkan juga, akan semakin beragam dan saling bersaing antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain.

Iklan
11
Des
09

KOMUNIKASI MASSA

pengertian komunikasi menurut para ahli :

Joseph R. Dominick:
Komunikasi massa adalah suatu proses dimana suatu organisasi yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih mesin memproduksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang besar, heterogen, dan tersebar.

Jalaluddin Rakhmat merangkum:
Komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.

11
Des
09

Macam-macam demokrasi pemerintahan

1. Demokrasi Parlementer, adalah suatu demokrasi yang menempatkan kedudukan badan legislatif lebih tinggi dari pada badan eksekutif. Kepala pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Perdana menteri dan menteri-menteri dalam kabinet diangkat dan diberhentikan oleh parlemen. Dalam demokrasi parlementer Presiden menjabat sebagai kepala negara.

Menurut Anda, apakah Indonesia pernah menganut pemerintah demokrasi Parlementer? Silahkan Anda diskusikan dengan teman-teman Anda. Dan silahkan lanjutkan dengan uraian materi berikutnya.

2. Demokrasi dengan sistem pemisahan kekuasaan, dianut sepenuhnya oleh Amerika Serikat. Dalam sistem ini, kekuasaan legislatif dipegang oleh Kongres, kekuasaan eksekutif dipegang Presiden, dan kekuasaan yudikatif dipegang oleh Mahkamah Agung.

Coba Anda pikirkan mengapa ketiga lembaga tersebut perlu dipisahkan? Tepat, dengan adanya pemisahan kekuasaan seperti itu, akan menjamin keseimbangan dan menghindari penumpukan kekuasaan dalam pemerintah.
Bagaimana, apakah Anda mengerti dengan uraian-uraian di atas? Kalau belum, silahkan ulangi kembali membaca pada bagian-bagian yang terasa sulit. Kalau sudah jelas silahkan lanjutkan uraian tentang sistem demokrasi melalui referendum.

3. Demokrasi melalui Referendum
Yang paling mencolok dari sistem demokrasi melalui referendum adalah pengawasan dilakukan oleh rakyat dengan cara referendum. Sistem referendum menunjukkan suatu sistem pengawasan langsung oleh rakyat. Ada 2 cara referendum, yaitu referendum obligator dan fakultatif.

Referendum obligator atau wajib lebih menekankan pada pemungutan suara rakyat yang wajib dilakukan dalam merencanakan pembentukan UUD negara, sedangkan referendum fakultatif, menenkankan pada pungutan suara tentang rencana undang-undang yang sifatnya tidak wajib.

10
Des
09

Tindakan sosial

Tindakan sosial, dikaji ke dalam tiga tingkatan yaitu :

  • Tingkat mikro, mengkaji sistem kepribadian individu.
  • Tingkat messo, mengkaji sistem sosial.
  • Tingkat makro, mengkaji struktur sosial atau sistem budaya.

Tindakan sosial tingkat mikro

Menurut almaraghi, manusia dilengkapi dengan adanya lima hidayah yang diberikan Allah SWT kepada manusia, yaitu :

  • Instink
  • Indera
  • Akal-budi
  • Agama
  • At-Taufiqi

Kelebihan lainnya adalah manusia juga memiliki hidayah agama dan at-Taufiqi.  Semuanya itu merupakan kelengkapan dari ruh yang langsung ditiupkan Allah, sementara makhluk lain tidak.  Tindakan seseorang tidak terjadi hanya dengan satu unsur, tetapi berdasarkan beberapa unsur body an mind, atau fisik dan psikhis.  Namun unsur psikhis lebih dominan daripada unsur fisik.  Oleh karena itu kajian tentang individu atau tingkat mikro lebih ditekankan pada unsur psikologis yakni unsur psikhis.  Dalam mengatasi masalah, orang Islamlebih banyak berfikir, berdzikir dan berikhtiar.  Berdoa kepada Allah dan merealisasikan dalam kerja, lebih banyak menyebut Asmaul Husna.  Dengan banyak mengingat, merenung, memikirkan dan memohon ampunan kepada Allah semoga diberi petunjuk dan jalan keluarnya, mereka berusaha dan bekerja.

Di sisi lain Sigmund Freud menyatakan bahwa manusia itu memiliki tiga instansi psikhis yang menentukan kepribadiannya, yaitu :

  • Id
  • Ego
  • Super Ego

Id

Sebab yang paling dominan dalam mendorong manusia berprilaku adalah libido atau dorongan sexual.  Id dimaksudkan sebagai lapisan psikhis yang paling dasar, merupakan naluri bawaan (sexual dan agresif) dan keinginan-keinginan, karena itu yang berkuasa adalah kesenangan yang tidak mengenal waktu dan tidak mengenal hukum-hukum logika.

Ego

Hasil deferensiasi dari Id karena kontak dengan dunia luar.  Ego merupakan kekuatan mengimlentasikan Id, dalam melaksanakan aktivitasnya ego menyerupai gunung es di tengah lautan, ujung atasnya hanya sedikit kelihatan.  Ujung atas (puncaknya) itu yang disebut kesadaran, lapisan di tengah yang tergenang air laut sehingga tidak kelihatan disebut ambang sadara, dan bagian paling bawah dan paling besar dan yang dianalogikan berada di dasar lautan disebut bawah sadar.  Lapisan bawah sadar ini merupakan memori tempat menyimpan data-data yang di imput melalui panca indera.  Data-data yang tersimpan dalam memori bawah sadar ini akan dipanggil dan muncul ke lapisan alam sadar apabila mendapat rangsangan yang sama atau hampir sama.  Sehingga ego dapat melaksanakan aktivitasnya secara sadar.

Super Ego

Representasi internal dari nilai-nilai dan cita-cita suatu masyarakat menekankan pada nilai-nilai ideal daripada nilai real dan kepada perpection daripada pleasure.  Ia adalah instansi yang mengembangkan hasil interaksi dengan dunia luar internalisasi atau pembatinan dari norma-norma atau nilai-nilai yang diakuinya.

Tindakan Sosial Tingkat Messo

Interaksi sosial berlangsung di berbagai tempat, seperti keluarga, lingkungan pertetanggan, lingkungan pertemanan, lingkungan kelompok-kelompok tertentu (group), kelembagaan, organisasi, komunitas, masyarakat, negara atau bangsa dan organisasi dunia.

Masyarakat adalah sebuah struktur dan proses sosial yang komplek dan rumit.  Setiap masyarakat senantiasa mengalami perubahan.  Dan perubahan yang terjadi senantiasa mengalami keragaman ada perubahan yang cepat dan ada juga yang lamban. Masyarakat indonesia bersifat majemuk dan salah satu faktor yang menyebabkan kemajemukan masyarakat Indonesia antara lain adalah keadaaan geografis Indonesia.  Kemajemukan ditandai dengan adanya keragaman sistem sosial yang berdasarkan ras, suku bangsa dan agama.

Terdapat dua kelompok masyarakat yang hidup saling berhubungan, saling mempengaruhi atau saling berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yakni melayu mongoloid dan papuamelanesoid.  Dalam interaksi sosial masyarakat Indonesia, perbedaan sifat-sifat fisik yang membedaka kelompok yang satu dengan yang lain tidak memberikan pengertian adanya superioritas.  Artinya, tidak ada suatu kelompok yang berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu yang dianggap lebih istimewa atau lebih unggul dibanding kelompok yang lainnya.  Masyarakat Indonesia tidak menganut faham rasialisme, yaitu suatu faham yang meyakini bahwa kaelompok ras tertentu lebih tinggi daripada kelompok ras lain.  Akan tetapi, masyarakat Indonesia meyakini bahwa semua kelompok ras mendapat hak dan kewajiban yang sama dibidang apapun.

Tindakan Sosial Tingkat Makro

Pada tingkat ini tindakan sosial berkenaan dengan pola perilaku sebagai perwujudan dari budaya dan merupakan kajian antropologis.  Masyarakat Indonesia yang memiliki filsafat hidup yang sekaligus ideologi bangsa yakni Pancasila telah mengakui agama sebagai cara dan gaya hidup berbangsa dan bernegara karena itu masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius

10
Des
09

Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Dasar Pengatur Sistem Pemerintahan

Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) merupakan dasar untuk mengatur sistem pemerintahan yang diperlukan demokrasi Indonesia. Yang dimaksud adalah UUD 1945 yang belum dirobah dengan 4 Amandemen tahun 2002. Sebab setelah ada 4 Amandemen itu hakikatnya UUD 1945 telah berubah jiwanya dari Pancasila ke individualis-liberalis. Jadi tidak cocok dengan keperluan kita.

Sebab itu harus kita kembalikan Undang-Undang Dasar 1945 kepada kondisinya yang asli. Tentu hal ini akan mendapat perlawanan pihak-pihak yang mengalami keuntungan dari perubahan yang telah terjadi sejak UUD 1945 di-amandemen. Namun pengembalian UUD 1945 ke yang asli sangat mendasar kalau bangsa Indonesia berpegangan pada Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar Negara RI. Tidak mungkin satu bangsa melakukan aktivitas politik yang bertentangan dengan UUDnya.

Kondisi UUD 1945 setelah amandemen serba tak keruan. UUD 1945 yang terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh dan Penjelasan setelah amandemen masih ada Pembukaan yang tidak berbeda dari semula, Akan tetapi Penjelasan ditiadakan, sedangkan dalam Batang Tubuh diadakan perubahan Pasal-Pasal yang isinya bertentangan dengan Pembukaan. Pasal-Pasal baru itu banyak yang berjiwa individualisme-liberalisme.

Maka untuk mengembalikan UUD 1945 ke aslinya ada 2 alternatif jalan. Yang pertama adalah mengembalikan UUD 1945 yang asli sebagai UUD yang sah. Ini dapat dilakukan melalui berbagai kemungkinan, seperti didekritkan oleh Presiden RI, melalui keputusan DPR minta MPR bersidang atau melalui Referendum. Yang kedua adalah melalui proses pengkajian kembali UUD 1945 sehingga pengkajian ini menghasilkan UUD yang sesuai dengan UUD 1945 asli, tetapi mungkin dengan tambahan untuk penyempurnaannya.
Jalan pertama, terutama melalui satu dekrit Presiden RI, adalah cara paling cepat. Akan tetapi secara politik dipertanyakan apakah Presiden RI bersedia melakukannya. Jalan DPR amat sukar berhasil karena akan ditentang banyak anggota DPR yang diuntungkan oleh keadaan UUD 1945 setelah di-amandemen. Sedangkan melalui referendum juga memerlukan persetujuan DPR yang amat besar kemungkinan menolak .
Jadi harus ditempuh jalan kedua, yaitu melalui pengkajian. Ini satu proses lama tapi dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Sebab melalui pengkajian kembali dapat dihilangkan semua akibat buruk dari amandemen, yaitu yang membuat batang tubuh UUD bertentangan dengan Pembukaannya sendiri. Dapat diperoleh penyempurnaan UUD 1945, kalau dianggap perlu, dengan mengadakan penambahan. Akan tetapi tidak dalam bentuk amandemen melainkan sebagai addendum UUD 1945. Juga Penjelasan UUD dapat dikembalikan, karena UUD tanpa Penjelasan kurang menjamin adanya pemahaman yang benar dari isi UUD itu. Dengan semangat yang kuat untuk memounyai kembali UUD 1945 yang sesuai dengan Pancasila kita harapkan pengkajian ini dapat dilakukan secepat dan setepat mungkin.
Pengkajian ini harus dilakukan satu Pantitya yang dibentuk secara khusus, terdiri dari pakar hukum dan politik yang patriot Indonesia dan berjiwa serta memahami Pancasila. Hasil pengkajian diserahkan kepada MPR yang menyatakannya sebagai UUD yang berlaku di Indonesia. Hanya harus diwaspadai bahwa Panitya Pengkajian terdiri dari orang-orang yang patriot Indonesia dan bukan orang yang terpikat oleh ideologi dan paham lain atau yang mudah kena pengaruh pihak luar yang menginginkan lenyapnya Pancasila.serta menggunakan berbagai cara, termasuk uang, untuk mencapai tujuannya. Demikian pula MPR harus mempunyai cukup banyak anggota yang setia kepada Pancasila dan perwujudannya, khususnya yang duduk sebagai pimpinan MPR.

Berdasarkan UUD 1945 yang disempurnakan dan ada kesamaan jiwa antara Pembukaan, Batang Tubuh dan Penjelasan, disusun Sistem Politik Indonesia. Pertama harus diwujudkan ketentuan bahwa Kedaulatan ada di tangan Rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Itu berarti harus disusun MPR yang terdiri dari anggota yang berasal dari Partai Politik dan dipilih melalui Pemilihan Umum. Selain itu ada anggota MPR yang berasal dari Golongan Fungsional atau Karya (golkar) dan anggota yang merupakan Utusan Daerah, yaitu Daerah Tingkat Satu atau Provinsi.
Hal ini mengharuskan dibentuk Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) untuk mewadahi berbagai organisasi fungsional atau kekaryaan. Sekber Golkar menetapkan siapa dari organisasi fungsional menjadi anggota MPR .
Sedangkan Utusan Daerah ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) masing-masing Provinsi.
Seluruh anggota MPR berjumlah 1000 orang atau lebih, tetapi tidak melebihi 1500 orang.

Sebagai Penjelmaan Rakyat, MPR memegang kekuasaan tertinggi di NKRI. Ia menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang harus menjadi pedoman segala kegiatan Negara dan Bangsa untuk masa mendatang .
Ia mengangkat Presiden RI untuk memegang kekuasaan pemerintahan dan melaksanakan GBHN. Serta menetapkan Wakil Presiden RI untuk membantu Presiden RI .
Pemilihan Presiden RI dan Wakil Presiden RI langsung oleh Rakyat sebagaimana sekarang terjadi menambah legitimacy Presiden dan Wakil Presiden. Akan tetapi dapat menjadikan kurang tegas ketentuan bahwa MPR memegang kekuasaan tertinggi di NKRI.

Di samping Presiden RI ada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang nebengeordnet atau sama tinggi kedudukannya dengan Presiden. Presiden sebagai pemegang kekuasaan membentuk undang-undang selalu memerlukan persetujuan DPR, termasuk undang-undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dengan jalan itu DPR menjalankan control atau pengawasan terhadap pelaksanaan fungsi Presiden. Karena pengawasan ini erat hubungannya dengan pelaksanaan GBHN yang berasal dari MPR, maka DPR melakukan pengawasan atas nama MPR. Sebab itu anggota DPR adalah berasal dari MPR yang menetapkan separuh dari jumlah anggotanya menjadi anggota DPR. Dengan begitu dalam DPR ada anggota yang berasal dari Parpol, Golkar maupun Utusan Daerah karena semua mereka sebagai bagian dari Penjelmaan Rakyat berkepentingan atas pelaksanaan pemerintahan yang baik.

Presiden RI didampingi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang pimpinan dan anggotanya ditetapkan melalui undang-undang, berarti hasil susunan Presiden dengan persetujuan DPR. DPA memberikan advis kepada Presiden, diminta atau tidak diminta.
Presiden RI juga didampingi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang juga dibentuk berdasarkan undang-undang. BPK berfungsi untuk memeriksa tanggungjawab keuangan negara dan menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada DPR.
Presiden RI juga didampingi Mahkamah Agung (MA) yang dibentuk menurut undang-undang. MA memimpin seluruh badan kehakiman NKRI yang dibentuk menurut undang-undang.

Untuk menjalankan pemerintahan Presiden RI mengangkat Menteri-Menteri yang memimpin departemen pemerintahan atau memimpin badan non-departemen. Presiden RI, Wakil Presiden RI beserta semua Menteri merupakan Pemerintah RI.
Di dalam menjalankan fungsi pemerintahan Presiden bertanggungjawab kepada MPR , sedangkan para Menteri bertanggungjawab kepada Presiden RI.
Indonesia terdiri dari Daerah-Daerah Tingkat Satu atau Provinsi yang ditetapkan dengan undang-undang. Demikian pula Daerah Tingkat Satu terdiri dari Daerah Tingkat II atau Kabupaten dan Kota yang juga dibentuk dengan undang-undang.
Untuk memberikan otonomi yang luas kepada Daerah maka semua Daerah Tingkat Dua adalah daerah otonom. Sedangkan Daerah Tingkat Satu memegang kekuasaan pemerintahan yang mewakili Pusat dalam memimpin Daerah Tingkat Dua sebagai bagian integral NKRI.
Atas dasar itu Kepala Daerah Tingkat Dua, yaitu Bupati dan Wali Kota, dipilih langsung oleh Rakyat, kecuali pimpinan Kota yang berada di Daerah Tingkat Satu Jakarta Raya. Setiap Daerah Tingkat Dua mempunyai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tk Dua yang anggotanya dipilih oleh Rakyat dan ditetapkan oleh Sekber Golkar. DPRD II membantu Bupati / Wali Kota dalam menjalankan pemerintahan di daerahnya. Dalam menjalankan pekerjaannya Bupati / Wali Kota bertanggungjawab kepada Gubernur / Kepala Daerah Tingkat Satu.
Kepala Daerah Tingkat Satu, yaitu Gubernur, ditetapkan oleh Presiden RI berdasarkan usul yang diajukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat Satu . Gubernur merupakan perpanjangan Pemerintah Pusat untuk mengatur jalannya pemerintahan di Daerah Tk I sesuai dengan ketentuan otonomi daerah. Dalam pekerjaannya Gubernur bertanggungjawab kepada Presiden RI. Gubernur dibantu Dewan Perwakilan Daerah Tingkat Satu yang anggotanya dipilih oleh Rakyat dan ditetapkan oleh Sekber Golkar. Gubernur bersama DPRD I menetapkan Utusan Daerah untuk duduk dalam MPR.

UUD 1945 di samping mengatur Demokrasi Politik juga mengatur Demokrasi Ekonomi. Manusia Indonesia tidak hanya mempunyai aspirasi politik yang ingin diwujudkan dalam sistem pemerintahan. Ia juga ingin aspirasi ekonominya atau aspirasi kesejahteraannya terjamin dalam sistem pemerintahan yang dijalankan. Ia ingin agar seluruh bangsa dan masyarakat mencapai hidup yang sejahtera dan berkeadilan.
Wujud Demokrasi Ekonomi adalah bahwa mayoritas bangsa atau 90% jumlah penduduk atau lebih adalah Golongan Menengah. Golongan Menengah itu menguasai 75-80% kekayaan nasional. Ada rakyat yang menjadi kaya karena kecakapan dan kecerdasan berusaha melebihi yang lain. Akan tetapi Golongan Kaya ini tidak akan lebih dari 5% jumlah penduduk dan menguasai 15-20% kekayaan nasional. Demikian pula pasti ada saja rakyat yang tergolong miskin, tetapi itu tidak lebih dari 5% jumlah penduduk dengan sekitar 5% kekayaan nasional.
Untuk mencapai susunan masyarakat itu diusahakan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, bukan untuk golongan tertentu yang sedikit jumlahnya. Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua, hal mana mengandung makna bahwa semua orang yang termasuk angkatan kerja memperoleh pekerjaan sehingga juga memperoleh penghasilan.
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Dikembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang luas. Untuk itu bangun perusahaan yang sesuai adalah koperasi, tetapi tidak dilarang bentuk usaha lain.
Karena kekayaan bumi dan alam harus memberikan kesejahteraan setinggi-tingginya bagi bangsa seluruhnya, maka itu harus dikuasai negara. Dibentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menjalankan produksi yang penting bagi negara. Di samping itu berkembang Usaha Swasta besar dan kecil karena tidak semua usaha perlu dilakukan BUMN. Yang penting adalah bahwa baik BUMN maupun Usaha Swasta menjalankan produksi yang meningkatkan kesejahteraan bangsa secara keseluruhan.
Kehidupan ekonomi nasional harus mempunyai daya saing yang tinggi agar benar-benar mendatangkan kesejahteraan tinggi bagi seluruh bangsa. Pada waktu ini Demokrasi Ekonomi sebagaimana digambarkan masih belum terwujud. Masyarakat Indonesia masih diliputi kemiskinan yang luas dan kekayaan bumi dan alam masih belum memberikan kesejahteraan memadai bagi bangsa seluruhnya; malahan mungkin lebih banyak memberikan keuntungan kepada bangsa asing.

Aspirasi Manusia Indonesia juga mengandung aspek Demokrasi Sosial di samping Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab jelas sekali menunjukkan pentingnya Demokrasi Sosial.
Sebab itu semua warga negara sama kedudukannya dalam hukum dan semua harus menjunjung hukum dan pemerintahan tanpa memandang tingkat kedudukannya dan asal golongannya. Semua warga berhak atas kehidupan yang layak sebagai manusia yang berharga.
Kemerdekaan tiap-tiap penduduk dalam memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing harus dijamin, termasuk peribadatannya. Demikian pula semua warga negara berhak mendapat Pendidikan Sekolah yang ditanggung sepenuhnya oleh Negara, paling sedikit sampai tingkat Pendidikan Menengah. Kalau ada rakyat yang termasuk fakir miskin dan anak terlantar, maka itu menjadi tanggungjawab Negara untuk mengurusnya.
Wujud dari Demokrasi Sosial adalah terlaksananya Gotong Royong di setiap aspek kehidupan bangsa. Dengan begitu terwujud kehidupan bangsa yang tenteram-damai-produktif dan tidak terganggu oleh konflik antara golongan kaya dan miskin, antara etnik yang berbeda, atau antara umat agama yang beda. Untuk menjamin keadaan itu lebih nyata, maka semua warga berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan negara sebagai tanda ikatannya kepada NKRI.
Pada waktu ini Demokrasi Sosial masih jauh dari kenyataan. Gotong Royong makin sukar ditemukan, sedangkan pertentangan antara golongan belum selesai, khususnya antara umat agama yang beda dan antara etnik yang berlainan.

Demokrasi dalam Pancasila baru terwujud memadai kalau baik Demokrasi Politik maupun Demokrasi Ekonomi dan Demokrasi Sosial menjadi kenyataan

10
Des
09

Pancasila sebagai Landasan Demokrasi Indonesia

Karena Pancasila telah kita akui dan terima sebagai Filsafah dan Pandangan Hidup Bangsa serta Dasar Negara RI, maka Pancasila harus menjadi landasan pelaksanaan demokrasi Indonesia. Kalau kita membandingkan dengan demokrasi Barat yang sekarang menjadi acuan bagi kebanyakan orang, khususnya kaum pakar politik Indonesia, ada perbedaan yang mencolok sebagai akibat perbedaan pandangan hidup.

Sebagaimana sudah diuraikan dalam makalah Perbedaan Pikiran Barat dan Pancasila, perbedaan prinsipiil atau mendasar dalam pandangan hidup Barat dan Indonesia adalah tempat Individu dalam pergaulan hidup. Dalam pandangan Barat individu adalah mahluk otonom yang bebas sepenuhnya untuk mengejar semua kehendaknya. Bahwa individu membentuk kehidupan bersama dengan individu lain adalah karena dorongan rasionya untuk memperoleh keamanan dan kesejahteraan yang terjamin, bukan karena secara alamiah individu ditakdirkan hidup bersama individu lain. Sebaliknya dalam pandangan Indonesia individu adalah secara alamiah bagian dari kesatuan lebih besar, yaitu keluarga, sehingga terjadi Perbedaan dalam Kesatuan, Kesatuan dalam Perbedaan. Oleh sebab itu pandangan bangsa Indonesia adalah bahwa hidup merupakan Kebersamaan atau Kekeluargaan. Individu diakui dan diperhatikan kepentingannya untuk mengejar yang terbaik baginya, tetapi itu tidak lepas dari kepentingan Kebersamaan / Kekeluargaan.

Kalau pelaksanaan demokrasi Barat dinamakan sekuler dalam arti bahwa tidak ada faktor Ketuhanan atau religie yang mempengaruhinya, sebaliknya demokrasi Indonesia tidak dapat lepas dari faktor Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila. Meskipun NKRI bukan negara berdasarkan agama atau negara agama, namun ia bukan pula negara sekuler yang menolak faktor agama dalam kehidupan bernegara. Ada yang mengritik “sikap bukan ini bukan itu” sebagai sikap yang a-moral dan ambivalent, tetapi dalam perkembangan cara berpikir dalam melihat Alam Semesta, khususnya yang dibuktikan oleh Quantum Physics , hal ini normal. Justru karena sikap itu demokrasi Indonesia tidak pernah boleh lepas dari faktor moral.

Demokrasi Barat cenderung diekspresikan dalam urusan kepentingan politik mengejar kemenangan dan kekuasaan. Dalam demokrasi Barat adalah normal kalau partai politik mengejar kekuasaan agar dengan kekuasaan itu dapat mewujudkan kepentingannya dengan seluas-luasnya (The Winner takes all). Ia hanya mengakomodasi kepentingan pihak lain karena dan kalau itu sesuai dengan kepentingannya. Jadi sikap Win-Win Solution yang sekarang juga sering dilakukan di Barat bukan karena prinsip Kebersamaan, melainkan karena faktor Manfaat semata-mata.
Di Indonesia berdasarkan Pancasila demokrasi dilaksanakan melalui Musyawarah untuk Mufakat. Jadi dianggap tidak benar bahwa pihak yang sedikit jumlahnya dapat di”bulldozer” oleh pihak yang besar jumlahnya. Itu berarti bahwa demokrasi Indonesia pada prinsipnya mengusahakan Win-Win Solution dan bukan karena faktor manfaat semata-mata. Namun demikian, kalau musyawarah tidak kunjung mencapai mufakat sedangkan keadaan memerlukan keputusan saat itu, tidak tertutup kemungkinan penyelesaian didasarkan jumlah suara. Maka dalam hal ini voting dilakukan karena faktor Manfaat, terbalik dari pandangan demokrasi Barat.

Dalam demokrasi Indonesia tidak hanya faktor Politik yang perlu ditegakkan, tetapi juga faktor kesejahteraan bagi orang banyak sebagaimana dikehendaki sila kelima Pancasila. Jadi demokrasi Indonesia bukan hanya demokrasi politik, tetapi juga demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Bahkan sesuai dengan Tujuan Bangsa dapat dikatakan bahwa demokrasi Indonesia adalah demokrasi kesejahteraan dan kebahagiaan dan bukan demokrasi kekuasaan seperti di Barat. Hal itu kemudian berakibat bahwa pembentukan partai-partai politik mengarah pada perwujudan kehidupan sejahtera bangsa (lihat makalah sebelumnya : Pancasila dan Partai Politik).

Karena demokrasi Indonesia adalah demokrasi kesejahteraan, maka wahana pelaksanaan demokrasi Indonesia tidak hanya partai politik. Banyak anggota masyarakat mengutamakan perannya dalam masyarakat sebagai karyawan atau menjalankan fungsi masyarakat tertentu untuk membangun kesejahteraan, bukan sebagai politikus. Mereka tidak berminat turut serta dalam partai politik. Karena kepentingan bangsa juga meliputi mereka, maka selayaknya mereka ikut pula dalam proses demokrasi, termasuk demokrasi politik. Oleh sebab itu di samping peran partai politik ada peran Golongan Fungsional atau Golongan Karya (Golkar).

Demikian pula Indonesia adalah satu negara yang luas wilayahnya dan terbagi dalam banyak Daerah yang semuanya termasuk dalam Keluarga Bangsa Indonesia. Oleh sebab itu di samping peran partai politik dan golkar, harus diperhatikan juga partisipasi Daerah dalam mengatur dan mengurus bangsa Indonesia sebagai satu Keluarga. Karena itu ada Utusan Daerah yang mewakili daerahnya masing-masing dalam menentukan jalannya Bahtera Indonesia.

Sebagaimana prinsip Perbedaan dalam Kesatuan, Kesatuan dalam Perbedaan menjamin setiap bagian untuk mengejar yang terbaik, maka Daerah yang banyak jumlahnya dan aneka ragam sifatnya perlu memperoleh kesempatan mengurus dirinya sesuai pandangannya, tetapi tanpa mengabaikan kepentingan seluruh bangsa dan NKRI. Otonomi Daerah harus menjadi bagian penting dari demokrasi Indonesia dan mempunyai peran luas bagi pencapaian Tujuan Bangsa.

10
Des
09

BEBERAPA PERUMUSAN MENGENAI DEMOKRASI PANCASILA

Dalam bukunya Dasar-dasar Ilmu Politik, Prof. Miriam Budiardjo mengemukakan beberapa perumusan mengenai Demokrasi Pancasila yang diusahakan dalam beberapa seminar, yakni:

1. Seminar Angkatan Darat II, Agustus 1966

a. Bidang Politik dan Konstitusional

1) Demokrasi Pancasila seperti yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar1945,yang berarti menegakkan kembali azas negara-negara hukum dimana kepastian hukum dirasakan oleh segenap warga negara, dimana hak-hak azasi manusia baik dalam aspek kolektif, maupun dalam aspek perseorangan dijamin, dan dimana penyalahgunaan kekuasaan, dapat dihindarkan secara institusionil. Dalam rangka ini harus diupayakan supaya lembaga-lembaga negara dan tata kerja orde baru dilepaskan dari ikatan pribadi dan lebih diperlembagakan (depersonalization, institusionalization )

2) Sosialisme Indonesia yang berarti masyarakat adil dan makmur.

3) Clan revolusioner untuk menyelesaikan revolusi , yang cukup kuat untuk mendorong Indonesia ke arah kemajuan sosial dan ekonomi sesuai dengan tuntutan-tuntutan abad ke-20.

b. Bidang Ekonomi

Demokrasi ekonomi sesuai dengan azas-azas yang menjiwai ketentuan-ketentuan mengenai ekonomi dalam Undang-undang Dasar 1945 yang pada hakekatnya, berarti kehidupan yang layak bagi semua warga negara, yang antara lain mencakup :

1) Pengawasan oleh rakyat terhadap penggunaan kekayaan dan keuangan negara dan

2) Koperasi

3) Pengakuan atas hak milik perorangan dan kepastian hukum dalam penggunaannya

4) Peranan pemerintah yang bersifat pembina, penunjuk jalan serta pelindung.

2. Musyawarah Nasional III Persahi : The Rule of Law, Desember 1966

Azas negara hukum Pancasila mengandung prinsip:

a. Pengakuan dan perlindungan hak azasi yang mengandung persamaan dalam bidang politik, hukum, sosial, ekonomi, kultural dan pendidikan.

b. Peradilan yang bebas dan tidak memihak, tidak terpengaruh oleh sesuatu kekuasaan/kekuatan lain apapun.

c. Jaminan kepastian hukum dalam semua persoalan. Yang dimaksudkan kepastian hukum yaitu jaminan bahwa ketentuan hukumnya dapat dipahami, dapat dilaksanakan dan aman dalam melaksanakannya.

3. Symposium Hak-hak Azasi Manusia, Juni 1967

Demokrasi Pancasila, dalam arti demokrasi yang bentuk-bentuk penerapannya sesuai dengan kenyataan-kenyataan dan cita-cita yang terdapat dalam masyarakat kita, setelah sebagai akibat rezim Nasakom sangat menderita dan menjadi kabur, lebih memerlukan pembinaan daripada pembatasan sehingga menjadi suatu political culturea yang penuh vitalitas.

Berhubung dengan keharusan kita di tahun-tahun mendatang untuk mengembangkan a rapidly expanding economy, maka diperlukan juga secara mutlak pembebasan dinamika yang terdapat dalam masyarakat dari kekuatan-kekuatan yang mendukung Pancasila. Oleh karena itu diperlukan kebebasan berpolitik sebesar mungkin. Persoalan hak-hak azasi manusia dalam kehidupan kepartaian untuk tahun-tahun mendatang harus ditinjau dalam rangka keharusan kita untuk mencapai keseimbangan yang wajar di antara 3 hal, yaitu:

a. Adanya pemerintah yang mempunyai cukup kekuasaan dan kewibawaan.

b. Adanya kebebasan yang sebesar-besarnya.

c. Perlunya untuk membina suatu rapidly expanding economy.




Arsip

Mei 2018
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Free Website Hosting
Free Website Hosting
Iklan